Posted by : Unknown Monday, 20 October 2014


Wajar sajalah jika aku harus terdiam, karena aku menunggu sesuatu yang setiap paginya selalu aku dapatkan, yaitu sapaan darimu. Entah mengapa aku merasa sakit ketika pengharapan itu tak kunjung datang. Aku tak tau, mengapa kamu tak memberi sapaan kepadaku. Tapi mungkin kamu terlalu sibuk dengan apa yang kamu kerjakan sekarang ini. Sehingga kamu lupa untuk memberikan sapaan kepadaku. Yah, tak mengapa jika memang tak sempat. Aku memaklumi itu, karena aku tak mau mejadi orang yang egois.

Sungguh, perasaan ini terus membayang-bayangiku. Sehingga aku bingung! Bingung dengan jawaban atas semua ini. “Perasaan? Apa yang aku rasakan? Entahlah! Masa bodoh!” terlintas kata-kata tersebut pernah aku ucapkan. Karena apa terucap? Karena perasaan yang seharusnya dingin dan sekarang kembali mulai memanas.

Haruskah aku berteriak akan perasaanku ini? Harus?. Perasaan ini yang membuatku kuat, kuat untuk bertahan denganmu. Walaupun ketidak pekaanmu yang membuatku bingung. Tapi jauh dilubuk hati ini perasaan, hati dan mata ini tetap tertuju kepadamu. Aku mengerti, mungkin ketidak pekaanmu disebabkan karena aku. Iya aku! Aku yang jarang memberi perhatian kepadamu, aku yang tak bisa menghiburmu, aku yang tak bisa membuatmu senang dan aku yang tak bisa memberikan segalanya.

Rasa ini terkadang membuatku senang, sedih dan emosi. Apakah ini unsur yang terdapat di dalam kata CINTA? SAYANG?. Yah, aku harus menghadapi itu, karena itu mungkin yang membuat perasaan ini seperti permen Nano-nano.  Walapun seperti permen nano-nano, tapi bisa saja Hitam dan Putih diantara kita menjadi lebih berwarna seperti Pelangi.

Mungkinkah kamu merasakan apa yang aku rasakan? Mungkin? Sedangkan kamu tidak peka. Mengapa perasaan ini? Apa yang terjadi? Dan kemana kamu yang dulu? Kamu yang dulu yang membuat perasaan ini menjadi indah? Kamu yang membuat perasaan ini menjadi terspesialkan? Dan kamu yang membuat perasaan aneh ini menjadi luar biasa. Aku rindu kamu, rindu kamu yang dulu, yang peka, yang perhatian, yang bisa membuatku tertawa.

Sekarang aku hanya bisa terdiam dan berharap kamu yang dulu kembali. Lihatlah aku! Pandanglah aku! Adakah kamu mengkhawatirkan aku? Perasaanku? Perasaan ini terus tumbuh seperti halnya kuku walaupun harus digunting dengan ketidak pekaanmu. Tetapi perasaan ini tidak akan pernah habis.

Aku yang mungkin terlalu memikirkanmu dan terlalu menyayangimu, sehingga aku terlalu sering menjatuhkan air mataku. Perasaan ini tak akan pernah pudar, jika kamu tidak berpaling dariku. Perasaan ini yang menurutku tulus, dan membuat hal ini untuk tidak mau memulai lembar baru kembali. Perasaan ini juga yang akan terus berjuang untuk membuatmu senang. Dan perasaan ini yang akan terus berusaha untuk tetap sabar dan membuatmu peka kembali terhadapku.

Perasaan ini tak pernah salah, tapi aku yang salah dalam menyikapinya. Karena aku terlalu sibuk mengkhawatirkan kamu. Harus ku katakan “Jangan ganggu aku dulu untu sementara waktu, kabari aku jika kamu yang dulu telah kembali dan maaf, hati ini tertuju hanya untuk kamu yang dulu”. Selamat bersenang-senanglah untuk sementara waktu karena aku tidak akan mengganggumu. Cukup sulit untuk mengatakan itu, tapi ketidak pekaanmu yang membuatku harus mengatakannya. Andaikan saja kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan, mungkin kamu akan peka.

Aku terpaksa melakukan ini, aku tak tahan untuk tidak memberi kabar dan aku juga tak tahan untuk bersikap cuek. Sangat sulit untuk melakukan itu, karena ada satu alasan yang membuatku sulit untuk melakukan hal itu. Yaitu perasaan ini sungguh benar-benar kuat yang hanya tertuju padamu yang menyebabkan sehingga aku menyayangimu. Salahkah aku dalam perasaan ini? Salahkah jika perasaan ini melebihi batas?

Aku bukan seperti koleksimu, yang diletakkan dan dilihat olehmu lalu terabaikan. Aku juga bukan selembaran kertas yang mudah saja diremas. Dan aku juga bukan bonekamu yang kamu mainin sesuka hatimu. Inilah aku, aku ya aku. Dari pada menjadi itu semua, lebih baik aku menjadi kacamatamu, yang selalu ada dan selalu membantumu dalam penglihatanmu.

Pernahkah kamu merasakan apa yang aku rasakan?

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Iklan

Popular Post

- Copyright © MBayuSaputro -Notes- Powered by Blogger -