Posted by : Unknown
Friday, 24 October 2014
Aku disini termenung, termenung akan kesalahan, kesalahan yang telah ku perbuat kepadamu. Aku tak tahu, apa yang kamu rasakan sekarang ini. Tapi aku sungguh menyesali perbuatan yang telah kulakukan. Aku terpaksa melakukan itu, aku terpaksa untuk tidak peka. Karena aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan. Tapi, keterpaksaan itu membuatku sakit, aku tak sanggup melakukan itu. Melakukan untuk tidak membalas sms mu dan untuk tidak mengabarimu. Sungguh tidak bisa ku lakukan hal itu, karena itu akan lebih membingungkanku.
Aku takut kamu ikut juga merasakan sakit, aku takut. Aku
terlalu bodoh! Terlalu bodoh untuk melakukan hal itu. Aku terlalu egois akan
perasaanku, tapi aku tak pernah mengerti perasaanmu. Aku selalu tak pernah
mengerti keadaanmu, kesibukanmu, sehingga aku lupa arti dari kata pengertian.
Aku hanya terlalu sering membuatmu pusing, pusing memikirkanku akan tingkahku
dan sikapku. Aku juga jarang membuat hal unik dari kebersamaan kita, tak
seperti masa lalumu, tapi aku akan berusaha untuk membuat segalanya menjadi
unik.
Aku rindu, rindu suasana kita yang dulu, suasana yang
romantis,sejuk, dan bahkan dunia ini terasa milik kita berdua. Aku rindu sapaan
dari kamu, sapaan disetiap paginya, mengingatkan sholat, selalu bertanya udah
makan atau belum. Aku juga rindu sama kata-kata yang sering kita ucapkan,
kata-kata yang menurutku unik untuk didengar. Yaitu kata panggilan diantara
kita, sikeleng gantengku/sikeleng cantikku, Pangeran/Permaisuri, dan sayang.
Tetapi, kata-kata yang sering kita ucapkan dan kita dengarkan itu seakan-akan
terasa mulai punah. Percakapan yang sering kita lakukan tidak seperti dulu,
percakapan yang terasa luar biasa itu perlahan-lahan tenggelam. Aku rindu
dengan semua itu, apakah bisa kita membuat suasana seperti itu kembali? Aku
bisa, kamu bisa?.
Maaf, aku minta maaf jika aku salah dalam menyikapi masalah
ini dan aku juga minta maaf atas emosi yang tak bisa ku kendalikan ini. Aku
cemburu, karena aku takut, takut kamu pergi dari ruang ini. Dan maaf, aku tak percaya
akan penjelasanmu, karena aku ragu. Keraguanku muncul ketika sikapmu berubah
dan ketidak pekaanmu yang terus mendorong mebuatku menjadi ragu.
Aku menganggapmu sebagai masa depanku, aku akan terus
berjuang, aku akan berusaha mengubah suasana ini kembali seperti yang lalu. Aku
ingin tetap bersamamu dan aku berharap kamu menganggapku sebagai masa depanmu.
Tolong! Lebih yakinkanlah aku, seperti aku pernah meyakinkanmu. Agar
kepercayaan ini bagaikan air yang terus mengalir, walaupun ada ketidak benaran yang
datang, tetapi tak akan membuat kepercayaan ini menjadi ragu.
